Sekjen PETANI : Revolusi Bumi Hijau

/ April 24, 2022 / 6:37 AM
Bagikan:

 
Elhan Zakaria Sekretaris Jenderal PETANI
BUDAYA - Budaya asli suatu bangsa adalah suatu budaya yang terbentuk oleh jalannya sejarah dari keadaan sosial masyarakat, cara hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, perkembangan pola-pikir dan siklus alam bangsa itu sendiri. Maka dari itu budaya dan sejarah bangsa adalah satu kesatuan yang membentuk dan membuat perubahan-perubahan dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Seiring dengan jalannya sejarah bangsa Indonesia budaya dibagi menjadi tiga bagian yang disebut sebagai Budaya Sosial, Budaya Ekonomi, dan Budaya Seni. Ketiganya tersebut adalah dari satu kesatuan budaya yang satu sama lainnya tak dapat dipisahkan dan saling berkesinambungan.

Menurut perkembangan proses paradigma berpikir sesuai cara hidup dan siklus alamnya Budaya Sosial, Budaya Ekonomi dan Budaya seni bangsa ini dipengaruhi oleh 3 (tiga) hubungan yang baik, “silaturahmi” yang baik yaitu :

1. Hubungan antara manusia dengan Tuhan

2. Hubungan antara manusia dengan manusia

3. Hubungan antara manusia dengan Alam atau Lingkungannya

Ketiga hubungan tersebutlah yang membuat perubahan-perubahan sejarah yang paling signifikan membentuk sebuah mental karakter dan pola-pikir budaya bangsa apapun dan terlebih-lebih lagi bangsa ini dimana yang sangat dekat dengan alam yang “Gemah Ripah Loh Jinawi” itu sendiri.

Elhan Zakaria junjung tinggi budaya bangsa

Cara berpikir kita bukanlah seperti orang barat yaitu menekankan pada daya kognitifnya semata-mata melainkan paradigma berpikir yang menyatu dengan rasa dalam rasa kesadaran akan 3 (Tiga) sialturahmi tersebut diatas, yang diejawantahkan sebagai “Karsa” diri dalam pengabdian dalam saling menjaga hubungan baik itu, maka kemudian berkembang untuk bisa men”Cipta”kan sesuatu yang bermanfaat untuk mengembangkan kehidupannya, sehingga menjadi “Karya” baktinya yang bukan hanya sekedar mendapatkan materi saja melainkan sebuah pengabdian kepada diri dan masyarakatnya terlebih lagi pada Negaranya.

Zaman sekarang ini bangsa kita secara nasional mengalami degradasi moral yang signifikan, itu disebabkan oleh “pemerkosaan” terhadap system pendidikan dan pelatihan kerja bangsa kita, pemikiran-pemikiran kognitif barat diterapkan ke dalam system pendidikan dan pelatihan kerja tanpa adanya penyaringan-penyaringan budaya pola-pikir sehingga merusak tatanan budaya yang selama ini tertanam dengan subur di dalam hati sanubari bangsa ini. Paradigma berpikir kognitif barat menyebabkan perilaku yang “simplisistik instant” sehingga aspek-aspek dalam menjaga hubungan “silaturahmi” antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan alam menjadi “rusak”. Karena perilaku tersebut maka telah dikesampingkan kedudukan etiga hubungan yang baik itu dan kemudian hanyalah mengedepankan sisi jabatan, materi atau untung ruginya (ukuran lahir) saja, sehingga hubungan yang seharusnya berdasarkan kepada pengabdian dengan rasa cinta,kasih sayang, rasa persaudaraan, dan rasa perikemanusiaan (ukuran batin) kini telah dikalahkan oleh kepentingan jabatan,materi dan untung rugi belaka (ukuran lahir). Oleh karena perilaku yang simplisistik instan inilah yang melahirkan perilaku korupsi yang sangat menghancurkan bangsa ini!

Elhan Zakaria bersama Tokoh Bangsa Indonesia Mayjen TNI Purn Tatang Zaenudin Presiden Tani Indonesia

CAKRA “Cipta,Karsa,Rasa” Inilah seharusnya yang menjadi sebuah “Cara” atau “Metodologi” Pendidikan dan Pelatihan dalam bangsa ini dalam mengatasi degradasi moral sekarang ini, karena metodologi “CAKRA” adalah benar-benar dari proses pelatihan berdasarkan sejarah perjalanan budaya lokal yang asli dalam bangsa ini. Dan Pelatihan Pembentukan Karakter Nasional Bangsa harus dilakukan secara integral yang didukung oleh media-media nasional yang ada secara menyeluruh karena pada masa-masa ini arus perkembangan tekhnologi semakin maju sehingga jika tidak dilakukan secara integral bersama-sama media akan mustahil bangsa ini dapat mencapai kesadaran nasionalisme itu.

EKONOMI - Saat ini dunia sedang krisis “3F” Food, Fuel, Financial, ini menjadi peluang usaha nasional untuk bangsa ini. Karena kekayaan alam kita yang berlimpah ruah maka dunia akan melirik Indonesia. Dalam hal ini kita harus membuat suatu kondisi nasional yang benar-benar baik dan terkontrol sehingga kita bisa bernegosiasi dengan pihak asing tidak dibawah tekanan pihak asing itu melainkan sejajar dengan mereka. Semua ini bisa terjadi jika tiap-tiap orang di Negara ini mempunyai kesadaran nasionalisme yang tinggi sebagai wujud cinta tanah airnya.. Sedangkan untuk konsepsi Ekonomi kita memilki konsepsi dari The Founding Fathers bangsa kita yaitu “Ekonomi Pancasila”.

Elhan Zakaria dan Jak Tumewan Ketua Umum Benteng Jokowi

Ekonomi Pancasila adalah suatu konsep ekonomi yang benar-benar bisa diterapkan di bangsa ini sepanjang persatuan dan kesatuan atas dasar “Gotong-Royong” yang ber-bhineka tunggal ika ini terus terjaga dengan baik Jala Sutra-nya “jaringan tali-tali silaturahmi”. Dimana-mana dalam suatu Negara jika ia mempunyai system ketenagakerjaan yang akurat dan pendidikan dan pelatihan kerja yang berkembang secara mutakhir, maka bisa dipastikan Negara tersebut akan meningkat perekonomiannya dan dengan sendirinya meningkat pula pendapatan perkapita penduduknya maka dapat dikatakan Negara itu adalah Negara yang makmur. Untuk menerapkan Ekonomi Pancasila dalam Negara ini maka pemerintah harus mengorganisir para ahli-ahli profesi semua bidang dalam suatu badan hukum yang disebut “Jala Sutra” untuk menjaring potensi-potensi ahli untuk direkrut dan diberikan pendidikan dan pelatihan kerja sesuai keahliannya agar siap ditempatkan untuk bekerja sesuai dengan bidang keahlian dan bakatnya baik didalam negeri maupun diluar negeri.

Elhan Zakaria bersama KPH. Wendoe Koesoemo , saat mendapat mandat untuk misi Wujudkan Kembali Swasembada Pangan

Jala Sutra adalah sebuah wadah untuk system penempatan tepadu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan konsep “3 in 1” yaitu Perekrutan, Pendidikan dan Pelatihan Kerja, serta Penempatan bagi calon TKI dalam satu system yang akurat dan melibatkan semua pihak yang terkait dalam system ini. TKI akan direkrut melalui Bursa-bursa kerja didaerah-daerah kemudian Profesi-profesi yang telah ada dididik dan dilatih di balai-balai latihan kerja daerah baik milik pemerintah maupun swasta untuk mengikuti sebuah program pembentukan karakter nasional berbangsa dan bernegara dengan meningkatkan disiplin kerja dan disiplin ilmu dengan menggunakan “Revolusi Pola-Pikir” yaitu sebuah penggalian kembali alam bawah sadar untuk kembali ke jati diri bangsa ini melalui metode “CAKRA” sehingga apapun profesi akan membentuk sebuah mental yang kuat dan penuh pengabdian dan mempunyai suatu karakter mental yang tangguh dan percaya diri dalam membangun fondasi sosial ekonominya. Dan setiap Ahli-ahli profesi dikoordinasikan secara akurat dalam satu wadah besar ini “Jala Sutra” agar profesi dari macam-macam bidang yang ada (misalnya : ahli-ahli Pertanian, ahli-ahli kelautan, ahli-ahli pertambangan, ahli-ahli kedokteran) bisa lebih dikembangkan mengikuti tekhnologi-tekhnologi yang terbaru. Mereka juga harus disinergikan dengan mahasiswa-mahasiswi yang sedang menimba ilmu untuk terlibat dalam penelitian-penelitian di berbagai bidang maka dengan itu pemuda-pemudi bangsa ini bisa terlibat dengan aktif di daerah-daerah pedesaan untuk melakukan penelitian sekaligus mengembangkan potensi SDM dan SDA di daerah pedesaan khususnya di pedesaan-pedesaan yang tertinggal.

Elhan Zakaria bersama Pangeran Cendana

Pemerintah harus lebih berperan aktif dalam menyuburkan Ekonomi Pancasila ini dengan memberikan pelayanan yang terbaik, cepat, fleksibel dan yang lebih terpenting adalah pemberantasan Korupsi di pejabat-pejabat pemerintahan baik pusat maupun di daerah. Jika semua itu terlaksana maka pelaku usaha bersama-sama pemerintah bisa memicu pertumbuhan ekonomi agar bisa meningkat dan dengan sendirinya meningkat pula lapangan kerja supaya mereka ditempatkan mengembangkan potensi atau bakatnya tersebut dengan menempatkan mereka bekerja sesuai profesinya di dalam negeri maupun luar negeri Selain itu pemerintah harus menyediakan fasilitas kredit baik makro maupun mikro bagi mereka yang memiliki keahlian, kemampuan dan yang paling terpenting adalah kemauan untuk BERDIKARI “Berdiri di Atas Kaki Sendiri” dalam membangun fondasi sosial ekonomi keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Bicara kredit makro dan mikro adalah bicara tentang konsep ekonomi secara keseluruhan. Keseimbangan dalam pemberian kredit makro dan mikro harus seimbang pemberian kreditnya karena inti dari Ekonomi Pancasila adalah keseimbangan dalam ekonomi. Keseimbangan itu bisa terjaga selama pelaku-pelaku usaha baik dari konglomerat sampai karyawan yang sekecil-kecilnya bisa menjaga silaturahmi yang baik dengan tidak memakai ukuran lahirnya saja (jabatan, materi, dan untung rugi) melainkan harus memprioritaskan ukuran batin (cinta, kasih saying, rasa persaudaraan, rasa perikemanusiaan), karena hanya dengan itulah “Gotong-Royong” bisa tetap terjaga. Dalam pegimplementasian hal itu perusahaan-perusahaan bisa bergotong-royong dan menjalin kemitraan yang tidak hanya untuk usaha bersama namun juga dengan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia dengan koperasi-koperasi rakyat di desa untuk bersama-sama mengembangkan fondasi sosial ekonomi yang merata.

Elhan Zakaria bersama politisi muda AMPB

SOSIAL - Negara Indonesia adalah suatu Negara yang paling Heterogen di dunia, baik secara budaya, bahasa, kesenian, suku, agama dan aliran kepercayaan lainnya. Pancasila dengan filsafat Bhineka Tunggal Ika bukan sekedar lambang Negara yang diapakai kop-kop surat pemerintahan dan tambahan logo-logo di mobil-mobil mewah belaka yang justru telah lambang itu telah dikotori oleh segelintir pejabat korup Negara ini tanpa mengindahkan nilai-nilai filosofis budaya itu sendiri sehingga pejabat yang harusnya sebuah siloka dari “PEJuang ABdi rakyAT” telah bermetamorfosis menjadi “PEnJahAt bermartaBAT” oleh karena terlena oleh nafsu kerakusaanya akan jabatan dan materi belaka. Oleh karena itu Pancasila kini telah terkubur kembali dalam setiap aspek kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Dan untuk itu perlu disosialisasikan lagi nilai-nilai budaya moral Pancasila dalam bentuk “Program Pelatihan Pembentukan Karakter Nasional Bangsa dan Negara” kepada seluruh elemen bangsa ini terlebih lagi kaum muda agar menyadari Pancasila bukanlah sebagai alat Politik untuk penguasa yang seperti isu-isu yang sudah ditanamkan kepada mahasiswa kita, mereka harus menyadari bahwa Pancasila adalah suatu ajaran-ajaran pedoman untuk hidup berbangsa dan bernegara, bahwa bangsa Indonesia dengan Pancasilanya ini sudah terbiasa sejak zaman dahulu kala oleh keragaman-keragaman budaya, etnis, agama dan aliran kepercayaan lainnya yang cinta damai satu sama lainnya, bangsa asinglah yang selalu mengadu domba bangsa ini jika dilihat dari sejarah bangsa ini. Bangsa kita sesungguhnya bisa hidup damai satu sama lainnya karena bagi bangsa ini ada sebuah filosofi bahwa bangsa yang mulia adalah suatu bangsa yang saling menghargai, saling mencintai, dan saling memuliakan bangsa lainnya. Sebab ini kita adalah bangsa yang besar, kita harus berbangga karena hal ini, karena tidak ada satupun Negara yang membawa konsepsi dan ajaran seperti Pancasila yang digali dari sejarah dan budaya bangsa ini, jika dunia memakai konsepsi Pancasila yang digali oleh The Founding Fathers berdasarkan sejarah dan budaya bangsai ini, kelak bisa dipastikan bahwa dunia ini akan penuh dengan kedamaian.

Elhan Zakaria bersama Maharaja Kutai Mulawarman MSPA Iansyahrecza Fachlevie

Maka dari itu sebagai pemuda-pemudi Indonesia janganlah kita meniru-niru budaya dari bangsa lain, karena kita sudah mempunyai suatu ajaran yang berasal dari perjalanan sejarah dan budaya para leluhur kita. Dulu ketika bangsa ini telah tercerai-berai oleh karena taktik “Devide et Impera” yang disebut sebagai adu dombanya bangsa penjajah, ada segelintir pemuda yang bersatu dan mempunyai tekad untuk lepas dari cengkraman pihak asing. Dan dari segelintir pemuda yang menyadari itu pada akhirnya menyadarkan dan menyatukan pemuda lainnya di seluruh wilayah Nusantara ini. Dan kemudian saat penjajahan Jepang seorang pemuda merenungkan dengan menggali perjalanan sejarah dan budaya bangsa kita, dan keesokan harinya ia mempersembahkan “hasil galiannya” yaitu lima mutiara bangsa ini untuk bangsa ini yang kita kenal sebagai Pidato Lahirnya Pancasila oleh Bung Karno. Kemudian Bung Karno diculik dan dibawa ke Rengas Dengklok untuk secepatnya memerdekakan bangsa ini oleh pemuda yang tak sabar ingin memerdekakan bangsanya yang telah terjajah. Kemudian Indonesia Merdeka dengan diadakannya Proklamasi oleh Sang Proklamator yaitu Soekarno-Hatta, yang selanjutnya estafet komando dilanjutkan oleh HM. Soeharto untuk mengisi Kemerdekaan Republik Indonesia itu.

Sang Proklamator hanya mengantarkan bangsa kita ke gerbang pintu kemerdekaan, Bung Karno pernah mengingatkan kepada kita “Janganlah engkau merasa berjasa dulu, selama masih ada isak tangis digubug-gubug pekerjaan kita belumlah selesai!” dan beliau juga pernah berkata “Revolusi Nasional kita memeang belum selesai. Semoga tidak seorangpun dari Bangsa Indonesia melupakan hal ini!” untuk itu melanjutkan jalannya Revolusi yang Romatik, Dinamis, dan Dialektik yang penuh cinta damai maka perlu membangun suatu karakter yang positif dalam menjalani kehidupan sosial berbangsa ini, maka diperlukan langkah-langkah sosialisasi dan upaya pendidikan yang besar dan berkesinambungan dengan suatu gerakan ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan dan melestarikan Sumber Daya Alamnya masing-masing yang sebenarnya merupakan tanggung jawab semua pihak, mulai dari individu, keluarga, koperasi, pengusaha, pekerja, sekolah, balai latihan kerja, juga masyarakat dan negara.Penyebab keterpurukan bangsa kita saat ini adalah karena krisis moral dan perilaku kita sendiri.

Elhan Zakaria dipastikan pemegang Ilmu Swasembada Pangan untuk Kemakmuran

Semua itu adalah pola-pikir yang telah terbentuk dari virus-virus yang merusak pola pikir kita. Sehingga Vaksin bagi kerusakan karakter bangsa kita berada pada diri kita sendiri sebagai manusia Indonesia seutuhnya yang seyogyanya siap memajukan bangsanya. Kasus-kasus seperti perselisihan dan perpecahan antar kelompok, korupsi, buruknya pelayanan kepada publik, pengabaian pada kepentingan bangsa, konflik-konflik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia adalah contoh nyata krisis moral sebagian bangsa kita yang sedang sakit saat ini. Maka kita harus membentuk sebuah kepemimpinan yang menyadarkan bahwa tiap-tiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri sehingga bangsa ini akan terdiri dari ratusan juta pemimpin yang insan kamil. Untuk membentuk Satria-satria piningit yang berjiwa kepemimpinan itu maka diperlukan sebuah Revolusi Pola Pikir, suatu revolusi yang membuat suatu kesadaran dimana musuh dalam tiap-tiap manusia adalah Hawa Nafsu dalam dirinya yang menguasai dirinya maka sangat diharapkan dengan Program Pelatihan Terpadu ini, bangsa kita akan sadar dengan jati dirinya bahwa semua tindak tanduk dalam hidupnya adalah sebuah moral pengabdian seutuhnya kepada masyarakat lingkungan sekitar, Negara sebagai bentuk pengejawantahan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga akan wujud suatu masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan bercorak “NASASOS” Nasionalis (Cinta kepada Ibu Pertiwi), Agamis (Cinta kepada Sejatinya diri), dan Sosialis (Cinta kepada alam dan isinya).

Elhan Zakaria

exs Investment Manager Asia-pacific Nusantara Holding Consortium Ventura Limited

Risk Management Director Crown Good Limited

Komisaris Utama PT TANI Terasalemba Agro Niaga Integrasi

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Penyangga Tatanan Negara Indonesia PETANI

Politisi Muda asal Sunda




Komentar Anda

Terkini: